Dalam kegiatan jual beli, tidak semua barang yang sudah diterima pelanggan akan berakhir dengan transaksi yang berjalan lancar. Ada kalanya produk dikembalikan karena ukuran tidak sesuai, barang yang diterima berbeda dari pesanan, atau ditemukan kerusakan setelah paket dibuka.
Situasi seperti ini tentu menjadi pekerjaan tambahan bagi pemilik usaha. Barang yang kembali tidak bisa langsung dicampur dengan stok lainnya. Perlu ada pemeriksaan untuk mengetahui kondisinya, alasan pengembalian, serta keputusan apakah barang masih bisa dijual kembali atau harus dipisahkan.
Di sinilah pengelolaan barang retur menjadi bagian penting dalam kegiatan operasional bisnis. Jika tidak diatur dengan baik, barang yang dikembalikan bisa sulit dilacak dan membuat catatan persediaan menjadi tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Kenapa Barang Retur Perlu Dikelola Secara Terpisah?
Ketika pelanggan mengembalikan produk, kondisi barang belum tentu sama seperti saat pertama kali dikirim.
Ada produk yang masih dalam keadaan baik dan hanya mengalami kesalahan pengiriman. Namun, ada juga barang yang kemasannya sudah terbuka, komponennya tidak lengkap, atau mengalami kerusakan.
Kalau semua barang langsung dimasukkan kembali ke rak penyimpanan, petugas bisa kesulitan membedakan produk yang siap dijual dengan produk yang masih menunggu pemeriksaan.
Karena itu, sebaiknya bisnis menyediakan alur khusus untuk barang retur. Tujuannya agar setiap produk yang kembali memiliki catatan dan status yang jelas.
Langkah Mengatur Barang yang Dikembalikan Pelanggan
Tidak harus menggunakan sistem yang rumit. Bisnis bisa memulai dengan beberapa langkah sederhana berikut.
1. Catat Alasan Pengembalian Barang
Hal pertama yang perlu diketahui adalah alasan pelanggan mengembalikan produk.
Apakah karena barang yang diterima tidak sesuai pesanan? Apakah ada bagian yang rusak? Atau justru terjadi kesalahan saat proses pengiriman?
Informasi tersebut sebaiknya dicatat bersama nama produk, jumlah barang, tanggal pengembalian, dan identitas transaksi.
Catatan ini berguna untuk mengetahui masalah yang paling sering terjadi. Jika kesalahan serupa terus berulang, pemilik usaha bisa mengevaluasi proses penjualan, pemeriksaan barang, maupun pengiriman.
2. Periksa Kondisi Produk Setelah Diterima
Jangan langsung menganggap semua barang retur masih layak dijual.
Petugas perlu memeriksa kondisi fisik produk, kelengkapan komponen, kemasan, serta bagian lain yang berkaitan dengan fungsi barang.
Misalnya, sebuah toko elektronik menerima pengembalian kipas angin. Sebelum produk dimasukkan kembali ke persediaan, perlu dipastikan apakah seluruh komponennya masih lengkap dan apakah perangkat tersebut berfungsi dengan baik.
Hasil pemeriksaan kemudian digunakan untuk menentukan langkah selanjutnya.
3. Pisahkan Barang Berdasarkan Kondisinya
Setelah pemeriksaan selesai, barang bisa dikelompokkan berdasarkan statusnya.
Beberapa kategori yang dapat digunakan antara lain:
- Barang masih layak dijual kembali.
- Barang membutuhkan perbaikan.
- Barang dengan kemasan rusak.
- Barang tidak layak dijual.
- Barang yang perlu dikirim kembali kepada pemasok.
Pemisahan ini membantu petugas gudang mengetahui posisi setiap produk tanpa harus memeriksa ulang seluruh barang.
4. Perbarui Catatan Persediaan
Barang yang dikembalikan pelanggan akan memengaruhi jumlah stok yang tercatat.
Karena itu, setiap retur perlu dimasukkan ke dalam catatan persediaan. Jangan sampai sistem menunjukkan stok tersedia, padahal barang tersebut sebenarnya masih berada dalam proses pemeriksaan.
Untuk bisnis yang memiliki banyak transaksi, penggunaan spreadsheet atau sistem inventaris bisa membantu proses pencatatan.
Setidaknya, informasi mengenai nama produk, jumlah, kondisi, dan status pengembalian perlu diperbarui secara berkala.
5. Tentukan Tujuan Barang Setelah Pemeriksaan
Setelah mengetahui kondisi produk, bisnis perlu menentukan apa yang akan dilakukan selanjutnya.
Barang yang masih bagus mungkin bisa dimasukkan kembali ke stok penjualan. Produk yang rusak dapat diarahkan ke bagian perbaikan, sedangkan barang yang harus dikembalikan kepada pemasok perlu disiapkan untuk pengiriman berikutnya.
Keputusan tersebut sebaiknya tidak dilakukan secara terburu-buru. Pastikan barang sudah diperiksa dan statusnya tercatat dengan benar sebelum dipindahkan.
Bagaimana Jika Barang Retur Harus Dikirim Kembali?
Dalam beberapa situasi, barang yang dikembalikan pelanggan tidak berhenti di gudang penjual. Produk mungkin perlu dikirim kembali ke pemasok, distributor, atau lokasi penyimpanan lain.
Proses ini membutuhkan perhatian tersendiri karena barang yang dikirim kembali belum tentu memiliki kondisi dan kebutuhan penanganan yang sama seperti pengiriman awal.
Sebelum mengatur pengiriman, perhatikan beberapa hal berikut:
- Pastikan alamat tujuan pengembalian sudah benar.
- Catat jumlah barang yang akan dikirim.
- Periksa kembali kondisi produk.
- Siapkan informasi penerima dan kontak yang bisa dihubungi.
- Sesuaikan kemasan dengan kondisi barang.
- Simpan catatan pengiriman untuk kebutuhan pemeriksaan berikutnya.
Jika barang retur terdiri dari beberapa jenis produk, pemisahan berdasarkan tujuan dapat membantu mengurangi risiko barang tertukar.
Untuk memahami tahapan pengiriman barang dari awal hingga diterima oleh pelanggan, kamu juga bisa membaca 8 prosedur pengiriman barang dari produsen ke customer.
Hubungan Pengelolaan Retur dengan Persediaan Gudang
Barang retur sebenarnya memiliki hubungan erat dengan pengelolaan persediaan. Keduanya tidak bisa berjalan sendiri-sendiri karena setiap produk yang kembali akan memengaruhi jumlah stok dan pencatatan barang.
Bayangkan sebuah distributor menerima pengembalian 20 unit produk dari salah satu toko. Jika barang tersebut langsung dimasukkan ke dalam stok tanpa pemeriksaan, jumlah persediaan mungkin terlihat bertambah, tetapi belum tentu seluruhnya siap dijual.
Hal seperti ini bisa menimbulkan kesalahan ketika perusahaan menerima pesanan baru.
Bagi bisnis yang mengirim stok ke beberapa lokasi, pencatatan juga perlu memperhatikan tujuan masing-masing barang. Pembahasan mengenai pengiriman persediaan untuk kebutuhan toko bisa dilihat dalam artikel jasa pengiriman stok minimarket dan toko ke Indonesia Timur.
Dengan pencatatan yang teratur, pemilik usaha bisa mengetahui barang mana yang masih tersedia, sedang diperiksa, atau perlu dikirim ke lokasi lain.
Jangan Abaikan Koordinasi Selama Proses Pengembalian
Pengembalian barang biasanya melibatkan lebih dari satu pihak. Bisa ada pelanggan, tim penjualan, petugas gudang, pemasok, hingga pihak ekspedisi.
Karena itu, informasi mengenai barang yang dikembalikan sebaiknya tidak hanya disimpan oleh satu bagian.
Misalnya, tim penjualan sudah menerima laporan retur dari pelanggan, tetapi petugas gudang belum mengetahui barang tersebut akan datang. Akibatnya, proses penerimaan bisa menjadi kurang teratur.
Koordinasi diperlukan agar setiap bagian mengetahui status barang dan tindakan yang perlu dilakukan.
Apabila barang harus melalui beberapa titik sebelum sampai ke tujuan akhir, memahami proses transit juga bisa membantu. Kamu bisa membaca pembahasan mengenai apa itu cargo transit dan mengapa barang tidak langsung sampai ke tujuan.
Kesimpulan
Barang yang dikembalikan pelanggan bukan sekadar produk yang perlu dibawa kembali ke gudang. Ada proses pemeriksaan, pencatatan, pemisahan, dan penentuan tujuan yang perlu diperhatikan agar kondisi persediaan tetap terkendali.
Melalui pengelolaan barang retur yang teratur, bisnis dapat mengetahui kondisi setiap produk dan mengurangi risiko kesalahan dalam pencatatan stok.
Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan komunikasi antara pelanggan, tim penjualan, gudang, dan pihak pengiriman berjalan dengan baik. Dengan begitu, proses pengembalian barang bisa ditangani secara lebih jelas tanpa mengganggu aktivitas operasional lainnya.
